Hamdalah dan Superioritas Allah

Alhamdu-lillahi Rabb al-‘alamin
“Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam” (QS. Al-Baqarah: 2)

Kalau basmalah diucapkan setiap kita mau memulai suatu pekerjaan, maka hamdalah menjadi bacaan pamungkas usai pekerjaan dilakukan. Di setiap shalat, kita membacanya. Setiap memperoleh hadiah, kebaikan, atau kelebihan rezeki, secara otomatis dari mulut kita terucap kata hamdalah. Seringkali ucapan itu hanya sebagai penghias bibir belaka, tanpa memamahi kedalaman makna yang dikandungnya. Kalimat alhamdulillah adalah kalimat berita (khabariyah) yang maknanya adalah bahwa ayat itu menetapkan segala jenis pujian yang baik hanyalah milik Allah, sekaligus berfungsi sebagai kalimat perintah untuk memuji Allah.

Hamdalah, berarti memuji Allah, juga pengakuan terhadap segala bentuk pujian yang menjadikan milik Allah. Sehingga ucapan hamdalah merupakan refleksi penghambaan diri secara mutlak, refleksi ketundukan seorang hamba terhadap Allah, yang berhak terhadap segala bentuk puja dan puji. Membaca hamdalah adalah implementasi rasa syukur seorang hamba kepada Tuhannya. Pujian terhadap Allah menempati segala ruang dan waktu. Seperti firman Allah swt, berikut ini.

“Segala puji bagi Allah yang memelihara apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi, dan bagi-Nya (pula) sega puji di akhirat. Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS. Saba’: 1)

Pujian, apapun bentuknya, tetap milik Allah dan kembali kepada-Nya. Sebab, Allah adalah Pemilik segala sifat yang pantas mendapat pujian. Allahlah sumber dari seluruh yang ada di alam raya ini. Oleh sebab itu, segala pujian menjadi milik-Nya untuk pertama kali. Pada hakikatnya, setiap pujian yang ditujukan kepada sesuatu selain Allah sesungguhnya tertuju kepada-Nya, baik diverbalkan maupun disembunyikan oleh pemujinya. Dalam kalimat hamdalah inilah esensi ketuhanan (tauhid) terpatrikan.

Ada dua hal yang patut diperhatikan dalam puji-pujian ini. Yaitu, yang dipuji dan yang memuji. Orang yang biasa menerima pujian akan tinggi hati, sombong dan takabur bila tidak memiliki budi pekerti yang tinggi. Yang memuji pun, bila itu sengaja diperdengarkan kepada yang dipuji, biasanya pamrih alias ada maunya. Mungkin demi mendapatkan suatu penghargaan, atau sengaja untuk menjerumuskan yang dipuji. Karenanya, setiap kita menerima pujian, hendaklah dikembalikan segera kepada pemiliknya yang sah, Allah.

Menyatakan Allah sebagai Tuhan Semesta Alam berarti berserah diri sepenuhnya kepada kehendak-Nya. Memuji Allah Yang Maha Kuasa hakikatnya adalah meleburkan ego dan mengikis habis kesombongan kita, berarti tidak lagi menyombongkan diri sebagai pemilik sesuatu. Juga, senantiasa menyadari kepemilikan-Nya atas segala sesuatu.

Kesombongan selalu membuat kita superior. Gelap mata memandang orang yang statusnya lebih rendah. Menilai sesuatu hitam putih. Menganggap dunia adalah miliknya. Kesombongan jelas akan menjerumuskan pelakunya pada jurang kenestapaan kelak di akhirat, sesuai sabda Nabi saw., “Tidak masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan.” (Hadits)

Pengucapan hamdalah yang disertai pemahaman dan keyakinan yang menghunjam di hati, akan membuka ruang kesadaran baru bagi kita. Yakni, bahwa sesungguhnya kita hanyalah seorang makhluk Allah yang dhoif, lemah, dan tidak memiliki kuasa apapun dan terhadap siapapun. Kesadaran seperti ini hakikatnya akan membuat kita lebih dewasa dan arif dalam memahami dan memaknai setiap pekerjaan yang kita lakukan. Kita menjadi lebih tawadlu’. Puas dengan hasil yang diperoleh, walaupun secara kuantitas sedikit. Tidak pernah mengeluh. Tidak tamak. Di sisi lain, akan lahir energi baru untuk bekerja lebih maksimal. Mengerahkan segenap kompetensi yang kita miliki untuk meraih prestasi tertinggi. Meningkatkan laba usaha. Dengan hamdalah optimisme bekerja akan senantiasa menghiasi senyum kita. Masa depan menjadi lebih cerah.

Sebenarnya juga tersirat pesan universal yang bisa kita petik dari hamdalah ini yakni terciptanya tatanan kehidupan yang terpuji, baik dalam konteks kehidupan individu maupun umat manusia secara keseluruhan. Makna terpuji yang terkandung dalam hamdalah adalah keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan. Untuk mewujudkan pesan universal itu, kita harus selalu memohon kepada Allah agar diberikan kehidupan yang terpuji tersebut. Dimulai dari proses penyadaran batin bahwa kita memang diamanahi oleh Allah untuk mewujudkan kehidupan bermasyarakat yang berkualitas seperti itu. Selanjutnya, bagaimana kesadaran batin kita itu mampu mempengaruhi pola pikir, pola sikap, dan pola tindak, baik kapasitas kita sebagai individu maupun sebagai anggota masyarakat.

Tentu saja, untuk mewujudkan sebuah tatanan kehidupan yang terpuji itu, kita tidak boleh duduk manis, menunggu “keajaiban” turun dari langit. Tapi, kita harus mengencangkan ikat pinggang, menyusun rencana kerja pencapaian yang operasional, membuat strategi implementasi yang jitu, kemudian mengerahkan segenap kemampuan tanpa mengenal lelah dan istiqamah.

Yakinlah, ketika kita memuji Allah, pada hakikatnya pujian itu akan kembali ke kita dalam bentuk energi pencerahan. Secara tidak sadar, kita menjadi semakin arif, bijaksana, jujur, ulet, optimis menatap masa depan, dan etos kerja kita semakin unggul.

Satu Tanggapan ke “Hamdalah dan Superioritas Allah”

  1. Wahyu Pena Berkata:

    Keren ustadz tulisan antum tentang hamdalah, coba antum tambahi dengan sedikit elaborasi tentang keterkaitan teks, semisal kenapa disitu pakai ‘alamin kok bukan kalimat lain, apa rahasia kalimat hamada, apa beda dengan madaha dll, pasti tambah keren. Tapi ‘ala kulli hal I’m so salute with you.

Tinggalkan Balasan