angin masih belia, surat-suratmu
tak sempat kubaca dalam perih keringat
perihal lagu kemarau meninabobokan nafas rerumputan
yang tumbuh liar sepanjang jidatmu
matamu semakin purba
ketika rerumputan itu berubah duri waktu
sesekali melukai kulitmu yang beludru
udara tropis meranggas di pucuk-pucuk tembakau
rumah-rumah kehilangan senyum. wajahmu semakin lengang
seperti duka anak tetangga yang ditinggal ibunya
tiba-tiba aku teringat sepenggal ceritamu
tentang seorang pengemis tua yang selalu
menggedor-gedor pintu kemarau usiaku
surat-suratmu masih tersimpan rapi
di almari hatiku. mataku terlalu asing menyiangi
debu jalanan yang seringkali menikam jantung matahari
hingga tembaga. seperti hari-hari kemarin, kulipat
pesan ramah reranting cemara menyapa angin
dalam nafas panjang doa-doa sembahyang
kelak akan kulukis ranum senyummu
mewarnai perjalanan sejarah angin yang gemetar
berapa mil lagi harus kucicipi manis elektron pelangi?
abad-abad terus berlari dalam alfa tawamu
di beranda ini kita perlu berhenti sejenak
mengunyah hari-hari yang berbatu
lantas menanam benih cinta bumi pada matahari
biarkan surat-suratmu memfosil
menjadi jejak musim dalam beranda sunyi sajak-sajakku
April, 2006
Mei 19, 2008 pukul 7:20 am
bagus puisinya
Mei 19, 2008 pukul 3:49 pm
askum. hidup ngeblog!!
Mei 30, 2008 pukul 11:18 am
Ayo nge-Blog… Tadz,punya SSA gimana?
Mei 31, 2008 pukul 5:53 am
oleh2 padangnya mana ust…
Mei 31, 2008 pukul 10:29 am
Assalamu alaikum. Kunjungi blog saya, tadz. He3X, ternyata kita punya selera yang sama; Hitam-putih doank… Saya mau nulis lagi *tapi gak tau mau mulai dari mana*
Mei 31, 2008 pukul 11:57 am
Ustadz!!! Lama tak jumpaa!!! Puisi-nya masih nendang bgt!! Hehehehe…
Saya dah jarang ni bikin puisi. Main + iseng terus ni…